Seruan hangat hadir dalam aksi bela Tauhid 212

Seruan hangat hadir dalam aksi bela Tauhid 212

Seruan hangat hadir dalam aksi bela Tauhid 212

dari berbagai sumber di internet

Oleh: Nasrudin Joha

Ya, aku juga merasakan hal yang sama sebagaimana yang engkau rasakan. Tentang abainya penguasa, tentang maraknya penistaan agama, tentang ketidakadilan penguasa, tentang ketidakadilan hukum, tentang kalimat Tauhid yang dihinakan dengan dibakar. Tentang hukum yang menghinakan dengan vonis 10 hari dan denda 2000 perak.

Ya, penguasa menutup seluruh saluran aspirasi. Jangankan menindaklanjuti, mendengar saja rezim ini sudah tidak punya waktu. Gendang telinganya, telah ditutup rapat sehingga sekeras apapun kita berteriak, tetap saja rezim sontoloyo bungkam, diam, setelah itu berpidato sepihak menebar ancaman.

Ada yang diancam di Tabok, ada yang dituding terpapar radikalisme, ada yang diproses hukum dengan kaidah SUKA SUKA KAMI, ada yang menjerit mengadu nasib tapi apalah daya. Mereka hanya guru honorer, yang boleh meminta tapi haram dikabulkan.

Dahulu, bahkan rezim sontoloyo ini yang mendekati guru honorer, meminta dipilih, mengumbar janji untuk menaikan status. Setelah berkuasa, ujaran itu sirna. Bahkan, sang pejuang dan pahlawan tanpa tanda jasa, dihinakan didepan istana.

Bagaimana dengan ulama kita ? Ya, rezim sontoloyo ini terus memburunya. Tidak puas telah mengkriminalisasi didalam negeri, rezim mengutus ‘intel-intel kekuasaan’ untuk memburu Habibana Muhammad Rizq Syihab di luar negeri.

Nasib aktivis kita juga sama, semua diburu dengan pasal pukat harimau UU ITE. Kebencian dan SARA, adalah senjata klasik rezim sontoloyo menekan kritisme nalar publik. Disaat yang sama, pasal karet ‘pencemaran nama baik’ juga digunakan untuk senjata berburu aktivis didunia cyber.

Jonru, Alfian Tanjung, Ahmad Dani, Asma Dewi, Rini Suistiawati, Buniyani, bahkan hingga Gus Nur. Semua nama ini adalah korban pasal pukat harimau UU ITE (28 ayat 2) dan korban pasal karet UU ITE (27 ayat 3).

Baca juga:  Program Kartu Tani Ganjar Pranowo Tak Ada Gunanya

Sementara diseberang sana, deretan nama penista agama dan penganjur kebencian dan SARA melalui sarana elektronik, bebas berkeliaran. Hukum tak mampu memproses Busukma, Ade Armando, Deny Siregar, Victor Laiskodat, Cornelis, bahkan hingga tak mampu menyentuh si Pandir Abu Janda.

Korupsi rezim dibiarkan, kesalahan lawan politik dikutak katik. Bahkan terakhir, memeriksa kasus korupsi anggaran kemenpora ke Pemuda Muhammadiyah tanpa bekal audit BPK. Hukum suka-suka, panggil rakyat suka-suka, nama rakyat dan lembaga umat tercemar, meskipun tuduhan tidak dapat dibuktikan.

Saudaraku,
Saudaraku karena iman,
Saudaraku karena iman dan Islam,

Akankah kita diam dengan semua kezaliman ini ? Akankah kita mewariskan kerusakan negeri kepada anak cucu kita, padahal mereka tidak pernah bersalah ? Akankah kita biarkan, negeri dengan penduduk muslim terbesar ini dikerdilkan oleh rezim penista agama ?

Ya, kita memang tak bisa apa-apa. Tapi kita punya Allah SWT. Tuhan seru sekalian alam.

Allah-lah, yang telah menolong kita ketika kita nyaris putus asa membungkam si mulut jamban di Pilkada DKI Jakarta. Allah SWT yang telah menyatukan hati kita, meskipun dengan latar belakang yang berbeda pada gelaran aksi bela Islam jilid pertama.

Jadi terlalu banyak alasan untuk kita berangkat aksi bela tauhid 212. Terlalu banyak argumentasi untuk terlibat dalam reuni bela tauhid 212. Apalagi, setelah nyata nampak didepan hidung kita, rezim sama sekali tidak melindungi dan membela kemuliaan bendera tauhid.

Baca juga:  Plisss deh, bantuin JUAL PRODUK UMKM

Rezim hanya membuat akrobat hukum untuk dijadikan tameng kritikan. Tidak peka dengan suasana kebatinan umat, perasaan beragama umat yang terluka, rezim mengundang ormas dan tokoh hanya untuk pamer prestasi, telah memproses hukum pembakar bendera tauhid, meskipun dengan proses abal-abal, dengan vonis lucu-lucuan.

Nyatanya, sampai tulisan ini Anda baca, rezim masih menolak memberikan pengakuan pada bendera tauhid. Rezim masih saja bersilat lidah, menjadi juru bicara Banser dengan Mantera ‘bendera ormas’ yang diulang-ulang.

Saudaraku,
Saudaraku karena iman,
Saudaraku karena iman dan Islam,

Akhirnya kutunggu dirimu disudut Monas di tengah kota Jakarta, bersama kibaran bendera tauhid, Al Liwa dan Ar Roya. Tersenyumlah, bergembiralah, berbahagialah, kita sedang menjalani rihlah yang disunahkan nabi. Nabi SAW bersabda “Rihlahnya umatku adalah Dakwah dan Jihad”. Sampai ketemu di Medan jihad bela tauhid, aksi 212 di Jakarta.

Peluk erat selalu,
Dari saudaramu

NASRUDIN JOHA [].

(Visited 32 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account