Kami kehilangan Kyai kami

Kami kehilangan Kyai kami

Kami kehilangan Kyai kami

Oleh : Iramawati Oemar
•••••••
#2019PrabowoPresiden
•••••••

Kebiasaan saya kalau pagi sambil menyeruput kopi atau menyeduh teh hijau panas adalah “sarapan” berita dari beberapa stasiun TV sekaligus, untuk mendapatkan update kabar terkini. Pagi ini ada kabar berita yang membuat saya galau sumalau kalau-kalau ini benar terjadi.

Kabarnya, Kyai sepuh Doktor (Hc.) H. Ma’ruf Amin yang sampai saat ini masih menjabat sebagai Ketua Umum MUI Pusat, merasa kurang nyaman dengan penolakan para pendukung Ahok atas pencalonan beliau sebagai Cawapresnya petahana.

Karena penolakan itu, Pak Kyai akan berusaha menemui para pendukung Ahok, dengan dimediasi oleh Nusron Wahid. Diharapkan, pasca pertemuan itu para pendukung Ahok bisa menerima pencalonan Kyai Ma’ruf.

*** *** ***

Wajar jika pendukung Ahok tidak bisa menerima Pak Kyai, karena beliau dianggap punya andil besar dalam menjebloskan Ahok ke penjara.

Tentu masih lekat dalam ingatan mereka bagaimana dulu Pak Tito dan jajarannya bersikeras baru akan menindaklanjuti laporan kasus penistaan agama atas Surat Al Maidah ayat 51 oleh Ahok, kalau sudah ada fatwa MUI. Dan…, MUI pun menerbitkan fatwa/sikap keagamaan.

Sejak itulah kasus Ahok kemudian diproses dan bak bola salju, tak terbendung lagi masuk ke ranah hukum di pengadilan. Salah satunya menghadirkan Pak Kyai Ma’ruf Amin.
Dalam sidang hari itu yang sangat melelahkan karena sampai malam, ada kejadian dramatis dimana Ahok membentak dan “mengancam” Kyai Ma’ruf yang kemudian memancing emosi dan amarah ummat.

Malam itu juga, LBP dan Kapolda Metro saat itu, Iwan Iriawan, sowan ke rumah Kyai Ma’ruf meski malam sudah larut. Di sisi lain, Nusron Wahid berusaha jadi penengah dengan mem-published sebuah video dirinya sedang menasehati Ahok dan di video itu tampak Ahok terdiam.

Keadaan semakin memburuk bagi Ahok. Kedatangannya ke beberapa lokasi untuk berkampanye ditolak warga, bahkan ada kejadian Ahok terpaksa dievakuasi pakai angkot yang kebetulan lewat.

“Pasukan” pengamanan yang mengawal kampanye Ahok pun bagaikan siaga hendak menghadapi serangan musuh. Buntutnya, Ahok lebih banyak berada di rumah pemenangan dikelilingi para pendukungnya.

Baca juga:  AIR MATA TITIEK SOEHARTO

Dan…, akhirnya, 19 April 2017 Ahok kalah telak 2 digit dari pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno. Kekalahan yang hingga kini belum bisa diterima oleh mayoritas pendukung Ahok.

Apalagi 20 hari pasca kekalahan di Pilkada, Ahok harus menanggung kekalahan lagi di pengadilan. Vonis 2 tahun penjara harus diterimanya atas kasus penistaan agama.
Meski banyak orang tak yakin Ahok benar-benar menjalani hukuman kurungan di Mako Brimob, tapi setidaknya vonis hukuman penjara selama 2 tahun itu akan membekas dalam sejarah hidup Ahok, yang membuatnya kehilangan kesempatan menjadi pejabat publik pada posisi tertentu.

Jadi, sampai disini sebenarnya bisa dipahami betapa besar RESISTENSI para pendukung Ahok kepada Kyai Ma’ruf Amin.

*** *** ***

Pasca Kyai MA dideklarasikan jadi cawapresnya petahana, gelombang penolakan dari Ahokers langsung bermunculan. Di media sosial, kekecewaan mereka diekspresikan secara terang-terangan. Bahkan kemudian ada wacana bahwa Kyai Ma’ruf harus mendatangi para pendukung Ahok dan meminta maaf.

Kini, demi diterima dan didukung oleh para pendukung Ahok, akankah Kyai Ma’ruf rela datang menemui Ahokers dan meminta maaf?!
Meminta maaf untuk apa?!

Apakah meminta maaf karena institusi MUI yang dipimpinnya pernah mengeluarkan sikap keagamaan yang membuat Ahok jadi terdakwa?!
Apakah minta maaf karena sudah menjadi saksi yang memberatkan dalam sidang Ahok?!

Seseorang yang meminta maaf atas suatu perbuatan, berarti MENGAKUI KESALAHAN atas perbuatan tersebut. Padahal, bagi kami ummat Islam, TIDAK ADA YANG SALAH dari fatwa MUI.

Meskipun Kyai Ma’ruf sampai saat ini belum mau melepaskan jabatan sebagai Ketua MUI, namun MUI bukanlah Kyai Ma’ruf. MUI adalah wadah para ulama se-Indonesia.

Tidak ada yang salah juga dengan kesaksian Kyai Ma’ruf di persidangan. Jika beliau menganggap itu salah, maka berarti Ahok benar. Itu logikanya.

Jadi, tak ada satupun alasan yang membuat Kyai Ma’ruf layak meminta maaf kepada ahokers. Ahok dinyatakan bersalah akibat dari perbuatannya sendiri.

*** *** ***

Baca juga:  Konspirasi politik dibalik pembakaran bendera Tauhid

Jadi…
Pak Kyai, mohon dipertimbangkan lagi apakah menemui pendukung Ahok dan meminta dukungan mereka adalah langkah yang tepat.

Jangan demi mendapatkan dukungan dalam kontestasi Pilpres 2019, Pak Kyai rela merendahkan diri pada pendukung Ahok. Apalagi kalau sampai meminta maaf, yang artinya merendahkan derajat fatwa/sikap keagamaan yang dikeluarkan oleh komisi fatwa MUI.
Pak Kyai memang masih Ketua MUI, tapi MUI bukanlah Pak Kyai seorang.

Kami telah kehilangan Pak Kyai kami, ketika kami melihat foto pak Kyai tersebar dikelilingi beberapa wanita berpakaian terbuka auratnya. Apalagi kemudian dibandingkan dengan yang bukan ula saja dikelilingi para wanita berhijab. Sungguh kami sedih.

Kami kembali kehilangan Pak Kyai kami ketika tiba saatnya masuk waktu adzan Isya, Pak Kyai justru asyik berada di tengah orang-orang yang berjoget dangdut, menikmati lantunan suara biduan yang meliukkan tubuhnya mengajak bergoyang. Sungguh kami kehilangan Pak Kyai kami yang tidak lagi mampu menolak acara apa yang layak dihadirinya dan mana yang tidak layak.

Kini, haruskah kami sekali lagi kehilangan Pak Kyai kami ketika beliau memutuskan “sowan” kepada para pendukung Ahok, apalagi sampai meminta maaf?!


note : gambar hanyalah ilustrasi, tidak ada hubungan dengan artikel diatas

Pulanglah ke rumah, Pak Kyai, kembalilah ke habitat, berkumpullah kembali dengan para ulama hanif yang saling “tawaashou bilang haq, tawaashou bish-shobr”, yang saling ber-amar ma’ruf dan nahi munkar. Yang saling fastabiqul khoirot, bukan berlomba mengejar jabatan duniawi.

(Visited 147 times, 2 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account