Ketika marwah ulama tak dijaga, ulama hanya jadi pelengkap gelaran demokrasi

Ketika marwah ulama tak dijaga, ulama hanya jadi pelengkap gelaran demokrasi

Oleh : Iramawati Oemar
•••••••

Ketika Kyai Haji Ma’ruf Amin diumumkan menjadi Cawapres petahana, saya berniat untuk berusaha menahan diri agar jangan sampai membully beliau. Selain karena sudah sangat sepuh, beliau juga sosok ulama yang patut kita hormati.

However, ketika dulu Ahok membentaknya saat Kyai Ma’ruf jadi saksi dalam sidang Ahok, saya juga tak terima beliau diperlakukan seperti itu oleh Ahok. Apalagi kemudian Raja Juli Antoni, Denny Siregar, dan buzzer pendukung Ahok secara terbuka mencaci maki beliau, sakit rasanya dada ini.

Dengan menjadi cawapres mendampingi petahana, saya berharap Pak Kyai mampu mewarnai, mampu memberikan sentuhan relijius, mampu membawa atmosfer kesejukan yang lebih dekat pada aktivitas ibadah, di tengah-tengah para pendukung petahana yang stigma-nya kurang dekat dengan Islam.

Kalau selama ini mereka suka mencela bahkan memaki ulama, siapa tahu dengan didapuknya pak Kyai jadi cawapres, mereka jadi hormat dan takzim pada ulama.

Begitu juga aktivitas kampanyenya, bisa lebih berbau aktivitas keagamaan, begitulah. Menyesuaikan dengan “habitat” Pak Kyai. Tapi…, sayang sekali, yang terjadi justru sebaliknya. Pak Kyai Ma’ruf lah yang “dipaksa” untuk memaklumi dan menyesuaikan dengan “habitat” pendukung petahana. Awalnya sekedar foto bersama tanpa jarak sedikit pun dengan para wanita berbaju terbuka auratnya alias “you can see”.

Saya jadi teringat ketika Condoliza Rice, Menlu (the Secretary of State) AS dimasa Presiden George W. Bush, datang ke Jakarta dan hendak bertemu Imam Besar Masjid Istiqlal. Saat itu Mrs. Rice memakai blazer berlengan panjang, celana panjang (bukan rok span yang full pressed body) dan selembar scarf melilit di kepala dan lehernya. Meski tak cukup menutup, namun setidaknya Rice mencoba untuk menghormati kedudukan seorang ulama, seorang Imam Masjid.

Begitu pula ketika host acara Fakta di TV One, Balques Manisang, menemui Ustadz Abdul Somad. Balques selalu memakai kerudung. Namun, masih di acara yang sama, ketika menemui 2 tokoh NU untuk melakukan cover both sides, Balques sama sekali tak mengenakan kerudung. Artinya : ada perbedaan cara memperlakukan dan menghormati ulama atau tokoh agama.

Kembali ke Pak Kyai Ma’ruf yang menjadi Rais Aam PBNU sekaligus juga Ketua MUI, ditambah lagi dari segi usia beliau sudah sangat senior/sepuh, sehingga sesama ulama pun hormat pada beliau, semestinya pendukung petahana bisa meniru contoh Condoliza Rice memperlakukan ulama. Minimal tidak terbuka auratnya dengan menyolok ketika berfoto bersama Pak Kyai, apalagi dengan posisi sangat dekat.

Baca juga:  PRABOWO MEMANG JENDERAL KARDUS

Bukan apa-apa, ini demi menjaga kehormatan Pak Kyai juga. Agar tak terbuka celah bagi pihak lain mencela dan membully beliau. Meski sudah keluar dari “habitat”nya dan menuju panggung kontestasi politik, namun rasanya tidak layak Pak Kyai tidak diperlakukan dengan kurang hormat.

Yang lebih menyedihkan dan bikin miris, hari ini viral beredar video aksi joget-joget pendukung petahana tadi malam sebelum acara pengambilan nomor urut di KPU.
Dalam video itu tampak seorang penyanyi menyanyi sambil mengajak berjoget dan semua orang yang ada di sekitar pak Kyai, TIDAK ADA SATUPUN yang melindungi Pak Kyai. Tidak melindungi bukan berarti membiarkan beliau dalam bahaya fisik. Tidak!

Yang tidak terlindungi adalah “MARWAH” Pak Kyai sebagai ulama senior, sesepuhnya para ulama. Betapa tidak, si penyanyi tanpa rasa canggung sedikit pun meliuk-liukkan tubuhnya persis di depan mata Pak Kyai. Semua yang hadir ikut bergoyang.
Tak terkecuali capres petahana yang ada di samping Pak Kyai. Beliau juga asyik larut dalam goyangan, seolah tak peduli di sampingnya ada seorang Kyai sepuh yang tidak mungkin akan mengikuti yang lain, bergoyang, berjoget.

Kasihan Pak Kyai. Beliau jadi tampak kikuk, canggung, tapi tak ada yang peduli. Tak satupun berusaha saling mengingatkan bahwa disitu ada Kyai sepuh yang tidak mungkin diajak berjoget. Sebab itu artinya tidak bersikap santun pada ulama.
Namun tak lama Pak Kyai tampak menikmati acara itu, meski tak ikut bergoyang, berjoget, beliau bertepuk tangan mengikuti irama musik. Astaghfirullah…

Saya membayangkan, kondisi seperti tadi malam masih akan dihadapi pak Kyai setidaknya hingga 7 bulan ke depan. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa selama ini panggung kampanye yang bersifat terbuka dan ada pengerahan massa, selalu saja ada panggung musik dangdut atau musik cadas, yang mampu menarik banyak massa untuk hadir dan bertahan di lokasi.

Baca juga:  Politik Partai Dakwah

Bukan cuma soal musiknya, biasanya selalu disertai goyangan dan joget bareng agar makin gayeng. Tak jarang goyangan sang artis penyanyi sangat “vulgar”, liukan tubuhnya sering membikin miris. Apalagi pakaiannya juga “kurang bahan”, terbuka dan ketat melekat mengikuti bentuk tubuh.

Kira-kira, bagaimana Pak Kyai akan memposisikan dirinya jika berhadapan dengan situasi seperti itu? Apalagi jika semua yang hadir, tanpa kecuali, larut dalam suasana “pesta” panggung kampanye. Tak akan ada yang melindungi beliau, melindungi marwahnya sebagai ulama, melindungi harkat dan martabatnya sebagai kyai sepuh.

Berbeda sekali dengan Sandiaga yang notabene adalah rival politiknya, tapi justru memperlakukan beliau sebagaimana layaknya seorang ulama. Sandi tak rikuh mencium tangan pak Kyai dengan takzim dan penuh penghormatan, berkali-kali.

Sungguh sayang, sekaligus kasihan, ketika Marwah keulamaan Pak Kyai justru tak dijaga ketika berada di tengah-tengah para pendukungnya.

Belum lagi, ketika diminta KPU untuk menyampaikan pidatonya pasca pengambilan nomor urut, Pak Jokowi justru mengatakan bahwa yang diperebutkan memang RI-1. Lho, RI-2 gak dianggap?! Pernyataan itu memang spontan, pidato tanpa teks.

Namun, justru karena spontan itulah, kemungkinan besar apa yang terucap menggambarkan apa yang ada di lubuk hati atau yang terpatri dalam benak. Artinya : hanya posisi RI-1 yang dianggap penting untuk diperebutkan, sedangkan RI-2 hanyalah pelengkap saja. Sekedar syarat dalam proses demokrasi.

Mohon maaf Pak Kyai, kami hanya bisa bantu doa, semoga Pak Kyai mampu bersabar sekaligus Istiqomah dalam menjaga marwah keulamaan Pak Kyai. Ketika tak ada satupun yang bisa diharapkan dapat melindungi marwah Pak Kyai, maka terpaksa Pak Kyai sendiri yang harus menjaga.

Ketika orang lain sulit memperlakukan Pak Kyai sebagai ulama sepuh, minimal Pak Kyai juga tetap menjadi seorang ulama sepuh, tanpa harus ikut larut dalam kelakuan anak muda yang jejingkrakan, bergoyang dan berjoget.

Semoga Pak Kyai mampu MEWARNAI, BUKAN justru TERWARNAI. Membawa pengaruh, bukan terkena pengaruh. Semoga Pak Kyai mampu bertahan tetap sebagai seorang ulama besar, meski telah keluar dari habitatnya.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=143034106646875&id=100028208602051

(Visited 137 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account