Karena politik selalu punya dua panggung

Karena politik selalu punya dua panggung

Karena politik selalu punya dua panggung

Oleh : Iramawati Oemar
=================

Mungkin ada beberapa teman yang bertanya-tanya kenapa kok saya belum juga menulis soal rekomendasi dari hasil ijtima’ ulama. Pun juga kemana dukungan saya berlabuh dari 2 nama cawapres yang direkomendasikan.

Memang saya sengaja melipir dulu, menunggu sampai kabut sedikit mereda. Nanti kalau sinar matahari sudah mulai terang, saya insyaa Allah akan menulis.
Lha, kalo sudah terang benderang ngapain juga ditulis?! Semua juga sudah tahu kok!
Belum tentu!

Politik itu selalu punya 2 panggung, yaitu panggung depan dan panggung belakang. Ini bukan kata saya lho, cuma mengutip kata-kata para pengamat yang sering muncul di tipi-tipi itu loh!

Ya, politik tidak bisa dipahami secara “bloko suto”, apa adanya yang tampak di permukaan saja. Sebab yang bergejolak di bawahnya atau di balik layar bisa lebih complicated dari yang tampak di permukaan.

Tidak selalu juga harus dikonotasikan negatif, sebab bisa jadi justru demi kebaikan bersama, demi kemaslahatan yang lebih besar, harus dicari jalan keluar yang elegan.

Kalau kita hanya melihat yang tampak di permukaan saja, yang ada di pemberitaan secara umum saja, lalu berpikir dan menyimpulkan bahwa sudah pasti begitu, bisa jadi pemikiran kita miss-leading.

Saya ambil contoh yang masih “segar” dalam ingatan kita, yaitu soal TGB.
Dulu ketika banyak sekali nettizen tenggelam dalam euphoria “Saya TGB”, hanyut dalam kekaguman mengidolakan beliau sebagai”the next ideal leader” sambil di saat yang sama mengusung tagar perubahan kepemimpinan di 2019, saya tertawa saja dalam hati.

Saya baru bereaksi ketika mendapat masukan dari teman-teman bahwa ada para pendukung TGB yang masuk ke grup-grup WA relawan #2019gantiPresiden sambil dengan gigih memasarkan tagar “Saya TGB” dan menyebar meme foto-foto para tokoh yang seolah mengendorse TGB.

Saya masih ingat, saat itu bulan April, lalu saya mencoba membunyikan “wake up call” kepada teman-teman. Hi, come on, kalau you usung tagar ganti presiden sambil promosiin dia, itu kontradiktif. Yang lebih masuk akal justru dia akan jadi cawapresnya sang petahana saat ini.

Baca juga:  Penyembuhan penyakit melalui teknik TACMI : Terima, Akui, Cintai, Maáfkan, Ikhlaskan)

Apa hasilnya?!
Tulisan saya viral semingguan, menuai komentar pro dan kontra, termasuk saya dibully secara halus, disindir, bahkan ada yang mengecam saya lewat orang lain.

Saya tak surut langkah untuk terus mengingatkan, karena saya tahu yang di balik layar. Karena saya tidak memahami politik hanya dari panggung depan.

Sederhananya begini : TGB sudah 10 tahun jadi Gubernur, sejak 2008, tapi kenapa baru “berdakwah” keliling Indonesia sejak 2017-2018 secara masif bahkan terkesan “kejar tayang” termasuk di hari kerja?

Siapa endorser-nya?
Siapa yang menggagas ide itu awalnya?
Bukankah keliling Nusantara itu diiringi dengan tagar tertentu yang sengaja di-create dan dimotori oleh seorang aktivis medsos yang dulu jadi tim sukses Jokowi pada 2012 dan 2014?!

Sesederhana itu sebenarnya untuk menelisik bahwa ada sesuatu di balik panggung depan.
Ada udang di balik renyahnya rempeyek!

Tak butuh waktu lama, prediksi saya terbukti. Hanya berselang 2,5 bulan kemudian TGB sendiri yang menyatakan dia mendukung Jokowi 2 periode.

Meski masih saja beberapa pendukungnya mencari PEMBENARAN dengan dalih “belum tentu ditujukan untuk dukung Jokowi” atau “kan belum tentu TGB jadi cawapres Jokowi” atau lebih ekstrim lagi “mari kita lihat saja nanti hasilnya di Pilpres”.

Hahahaaa…, cukup menggelikan sebenarnya argumen “maksa” begini.
Sebab bagi saya sudah gak penting lagi apakah TGB akan dipilih Jokowi jadi cawapres or not, yang terpenting adalah “DIMANA POSISI” dia saat ini.

Kalau soal dipilih jadi cawapres atau tidak, itu sih banyak faktor penentu, termasuk tarik menarik internal koalisi pendukung petahana. Bisa juga karena faktor elektabilitasnya yang jeblok pasca menyatakan dukungannya kepada Jokowi.

Oke, itu baru satu contoh, bahwa memahami fenomena politik tidak bisa hanya yang tampak di permukaan saja. Nanti kita akan sering terkaget-kaget. Lalu kecewa sendiri, marah sendiri, baper sendiri, dan residunya tidak hilang meski realitas politiknya sudah berbeda.

Sampai saat ini saya masih berusaha konsisten untuk memberikan ruang dan waktu kepada calon Presiden yang saya dukung, Bapak Prabowo Subianto, untuk menjalankan proses politik. Berdiskusi, bernegosiasi dengan mitra-mitra koalisinya, hingga dicapai kesepakatan bulat siapa yang akan diusung mendampingi beliau.

Baca juga:  Jalan Tol VII: Prestasi Anak Bangsa

Kemarin pagi Pak SBY sudah menyatakan bahwa calon presidennya adalah Pak Prabowo dan menyerahkan sepenuhnya kepada Pak Prabowo untuk menentukan siapa cawapresnya.

Terkadang yang di akar rumput lebih “panas” gesekannya. Itu makanya saya tidak ingin menambah panas. Teman di friendlist saya beragam. Saya gak ingin menciptakan musuh terlalu dini. Sebab, apapun hasilnya nanti, katakanlah prediksi atau preferensi saya yang benar, belum tentu yang prediksinya keliru atau preferensinya tidak terakomodir akan bisa menerima.

Sementara ini, mungkin hingga 1-2 hari ke depan, saya hanya mendukung postingan teman yang se”nada” dengan preferensi saya.

Saya juga bisa memahami kenapa (maaf, ini hanya sekedar contoh) Pak Buni Yani dan Pak Herman Sya lebih condong kepada UAS, karena beliau berdua hadir di forum ijtima’ ulama. Jadi tahu prosesnya, bagaimana kedua nama itu muncul dalam rekomendasi.

Saya sih gak hadir disana, tapi ada rekan jurnalis yang mantengin disana sejak Sabtu sore. Dari rekan itulah saya dapat informasinya. Jurnalis biasanya detil ya, dalam menggambarkan situasi dan kondisi.

Yang jelas, saya punya keinginan tanggal 10 Agustus nanti bisa “mengantarkan” calon Presiden saya : Prabowo Subianto, mendaftar ke KPU. Paling tidak, saat ini tiket sudah ditangan, sudah lebih dari PT 20% hasil Pemilu 2014.

Siapapun nanti calon wakil presiden yang dipilih Pak Prabowo,
Saya Insyaa Allah dukung!

#2019PrabowoPresiden

(Visited 70 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account