Beri kesempatan kepada Prabowo

Beri kesempatan kepada Prabowo

Beri kesempatan kepada Prabowo

MARI BERI KESEMPATAN PAK PRABOWO MENJALANI PROSES POLITIK
=================
(Iramawati Oemar)
•••••••

Pasca pertemuan Pak Prabowo Subianto dan Pak SBY pada Selasa malam kemarin, sontak jagad medsos langsung heboh. Sebagian nettizen membuat status atau cuitan bernada negatif. Mulai dari yang “memutuskan” seolah-olah sudah pasti cawapres Pak PS adalah AHY.

Ada pula yang disertai “ancaman” akan golput saja pada Pilpres 2019 kalau paslonnya PS – AHY. Ada pula yang secara serampangan menyimpulkan Pak Prabowo sudah meninggalkan kedua mitra koalisinya : PKS dan PAN lalu beralih ke Demokrat. Bermacam dugaan dan kesimpulan sumir bertebaran. Hai, come on, mari berkepala dingin. Ayo buka kacamata kuda-mu dan cobalah pakai “helicopter view” agar bisa melihat lebih luas

Pertemuan semalam diadakan di rumah Pak SBY, beliaulah tuan rumahnya. Pak PS datang sebagai tamu. Dalam relasi tuan rumah–tamu, maka “superioritas” ada di posisi Pak SBY. Itu sebabnya ketika konferensi pers, beliau yang berbicara lebih dulu, baru kemudian memberi kesempatan Pak PS.

Jadi, jika dalam pertemuan 4 mata itu ada deal-deal politik yang memberikan “keuntungan” bagi Demokrat dan Pak SBY, apalagi yang sifatnya istimewa, sudah pasti Pak SBY tidak mau kehilangan momentum untuk mengumumkan malam itu juga. Semisal : disepakati bahwa Demokrat akan berkoalisi dengan Gerindra dengan syarat AHY akan jadi bakal cawapresnya. Faktanya, TIDAK demikian, bukan?!

Pak SBY menyampaikan bahwa kedatangan Pak PS malam itu dalam kapasitasnya sebagai CAPRES Partai Gerindra. Artinya Pak SBY menghormati posisi Pak PS yang sudah bulat dicapreskan oleh partainya dan itu harga mati, tidak bisa ditawar. Sedangkan keinginan untuk berkoalisi dari pihak Demokrat tidak disertai embel-embel “harga mati” soal cawapres.

Yang disepakati hanyalah keinginan untuk bersama memperbaiki kondisi negeri ini yang sudah sangat memprihatinkan, terutama pengelolaan asset negara dan BUMN-BUMNnya.

Dengan memandang kehadiran Pak PS sebagai CAPRES Partai Gerindra, maka niatan untuk berkoalisi dengan Gerindra menunjukkan bahwa Demokrat sepakat – setidaknya sampai tadi malam – untuk ikut mengusung Pak Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pilpres 2019. Nah, ini kabar baik bagi pendukung Pak Prabowo bukan?!

Apalagi ada penegasan dari Pak SBY bahwa sudah TERTUTUP peluang untuk membentuk poros ketiga dan tidak pula bergabung dengan koalisi pendukung Jokowi 2 periode.

Lalu apa yang salah?!
Apakah dari hasil pertemuan itu bisa disimpulkan Pak Prabowo meninggalkan PKS dan PAN?!

TIDAK!
Tak ada satupun point yang bisa ditafsirkan begitu.
Tidak dari Gerindra, tidak pula dari Demokrat.

Baca juga:  Politik Panggung Hiburan Kekanak-kanakan

Pak Prabowo pernah mengatakan bahwa beliau membuka peluang untuk melakukan penjajakan berkoalisi dengan partai lain, namun akan tetap dibicarakan dengan mitra koalisi yang sudah lebih dulu bersama Gerindra.

Prabowo Subianto Djojohadikoesoemo bukanlah typical seorang pengkhianat.
Justru beliau sudah merasakan pahit getirnya, sakitnya dikhianati. Prabowo Subianto seorang yang setia kawan dan loyal. Jadi tidak mungkin Prabowo akan menelikung apalagi menendang kedua sekutu setianya.

Sore ini saya melihat di TV One, Pak Mardani Ali Sera dan Fadli Zon duduk bersebelahan, diwawancarai news presenter. Keduanya sumringah. Pak Mardani masih tetap dengan slogannya untuk mengganti Presiden pada 2019.

Jadi tidak mungkin bagi PKS untuk bergabung dengan koalisi mendukung Jokowi 2 periode. Tidak ada komentar negatif dari Pak Mardani dalam menanggapi pertemuan PS – SBY semalam.

Bagaimana dengan PAN?
Senin, Pak Amien Rais sebagai pendiri PAN dan penasehat partai, hadir bersama Pak Prabowo dalam pertemuan PA 212. Keduanya tampak kompak.

Bagaimana dengan Ketum PAN yang kerap diissukan berbeda dengan Pak Amien?
Zulkifli Hasan, Ketum PAN kemarin pagi juga sudah “berpamitan” baik-baik kepada Pak Jokowi, bahwa PAN tidak akan mendukung Jokowi pada Pilpres 2019.

Bahkan, sebagai tindak lanjut pertemuan SBY dan Prabowo, malam ini ada pertemuan SBY dan Zulkifli Hasan. Jadi, tidak benar jika PAN masih ragu atau merasa ditinggalkan oleh Gerindra.

* * *

Dalam politik teman seribu kurang, musuh satu kebanyakan.
Apalagi dalam menghadapi kontestasi politik terbesar 5 tahunan : Pilpres!
Apalagi sudah “dikunci” dengan persyaratan konyol parpol atau gabungan parpol harus memenuhi Presidential Treshold 20% dari hasil Pemilu 5 tahun lalu, untuk bisa mengajukan pasangan capres dan cawapres.

Sudah pasti tak ada satupun parpol yang bisa mengusung capres sendiri.

Meski secara hitung-hitungan koalisi Gerindra – PKS – PAN sudah mencukupi 20%, apakah tidak perlu lagi menggaet parpol lain? Tentu tidak demikian dalam logika politik. Semakin banyak partai yang bergabung, bersinergi, mesin partainya bergerak semua, tentu lebih baik.

Jadi bagi yang mendukung gerakan #2019gantiPresiden apalagi yang menginginkan Pak Prabowo menjadi the next President, mari kta bantu Pak Prabowo. Apa yang bisa kita lakukan?!

Sederhana :
kita support Pak Prabowo menjalani proses penjajakan politik, membangun koalisi yang kuat. Koalisi yang tidak dibangun hanya karena kepentingan pragmatis semata. Koalisi yang tidak didasari politik transaksional saja.

Koalisi yang disatukan karena visi dan misi sama bahwa negeri ini harus DIKELOLA DENGAN LEBIH BAIK, OLEH FIGUR YANG MUMPUNI.

Baca juga:  Tiga amalan dengan pahala tanpa batas

Bagaimana cara kita mensupport Pak Prabowo? Dengan tidak menambah hiruk pikuk tak perlu di dunia maya.

Medsos di abad XXI ini bisa jadi pembangun opini paling cepat dan masif. Marilah jangan kita pasarkan dugaan-dugaan tanpa dasar. Apalagi dengan tambahan ancaman dan ajakan untuk golput.

Saya yakin, siapapun cawapres Pak Prabowo nanti, tidak ada yang 100% memuaskan semua pihak. Ada banyak nama yang semua berpeluang dipilih menjadi cawapres Prabowo. Tapi setiap nama itu pasti punya pendukung dan penolak masing-masing. Semua ada plus dan minusnya.

YANG TERPENTING adalah :
Bagaimana figur cawapres ini akan mampu MENDONGKRAK ELEKTABILITAS PRABOWO.
Sebab, pertarungan di 2019 bisa dibilang “deadly match”.

Now or never! HARUS MENANG! Itu tujuannya.
Maju untuk menang, bukan sekedar meramaikan.

Lihatlah bagaimana petahana juga mulai “panik”. Sampai-sampai dikeluarkan Perpres yang mengatur agar gubernur yang akan maju dalam Pilpres, harus minta ijin Presiden dulu, minimal 15 hari sebelum pendaftaran.

Gila! Memangnya ada berapa Gubernur yang berpotensi maju dalam Pilpres?! Hanya Anies Baswedan seorang sajalah yang belakangan ramai dibincangkan bakal mendampingi Prabowo pada Pilpres 2019.

Jadi, demi menghadang seorang Anies saja sampai diterbitkan Perpres.
Artinya ada kekhawatiran bahkan ketakutan jika benar Anies maju mendampingi Prabowo.

Jadi, sekali lagi, mari kita jadi “pengamat” yang baik. Mengamati dari luar, dinamika parpol-parpol membangun koalisi. Jangan sampai ada friksi apalagi sampai terjadi perpecahan yang hanya akan menguntungkan petahana.

Semoga Pak Prabowo diberi kesehatan yang prima dan dimudahkan jalannya menyatukan parpol-parpol mitra koalisinya.

Sebagai pendukung Prabowo, sebaiknya kita juga tidak memasang “harga mati”. Pokoknya Prabowo harus berpasangan dengan si Fulan, si Anu, kalau tidak, saya akan balik badan.

Hmm…, kalau ada yang begitu, tanggalkan saja tagar 2019 ganti Presiden dari berandamu.

Negeri ini sudah KRITIS kawan, BUMN-BUMN besar banyak yang merugi. Pertamina sudah berdarah-darah sampai kemungkinan akan jual asset.

Mari pikirkan bagaimana menyelamatkan negeri ini. Yang jelas, jangan lanjutkan yang sekarang!

#2019PrabowoPresiden
#SayaMauPrabowoPresiden2019
#PS08Presidenke8

(Visited 122 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account