Perbedaan Tabiat Politik yang Membuat SBY Sulit Untuk Bisa Bersatu Dengan PS

Perbedaan Tabiat Politik yang Membuat SBY Sulit Untuk Bisa Bersatu Dengan PS

Perbedaan Tabiat Politik yang Membuat SBY Sulit Untuk Bisa Bersatu Dengan PS

Tidak bisa disamakan dg apa yg terjadi di Malaysia, Mahathir berseteru dengan Anwar Ibrahim tapi bisa bersatu karena keduanya berangkat dari kubu yang sama, kubu oposisi. SBY tidak bisa bersatu dengan PS karena berbeda tabiat politiknya.

Popularitas Gerindra dan PKS, dua partai sekoalisi, terus melejit keatas meninggalkan lawan-lawannya. Bersamaan semakin meluasnya dukungan terhadap Prabowo Subianto, sebagai Capres yang diusung koalisi ini pada Pilpres 2019. Dan yg luar biasa adalah bahwa dua partai ini dianggap sebagai penyalur aspirasi ummat Islam. Hal ini secara jelas tampak pada Pilgub DKI. Demikian pula pada persiapan Pilkada di Propinsi besar seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera Utara.

Gaya politisi di negeri ini selalu saja mengatakan bahwa politik itu cair dan dinamis, yg diartikan sebagai perubahan sikap dapat terjadi sewaktu-waktu berdasarkan perkembangan keadaan. Pengertian ini yang sesungguhnya secara langsung mencerminkan ketidakjelasan pendirian pihak yg menyatakan tersebut.
Politik itu tidak cair, bila didasari oleh integritas dan kejujuran dalam bersikap. Dengan demikian sejak awal sudah bisa menentukan sikap dan tempat berdiri dalam berpolitik. Hal ini yg terjadi pada Gerindra dan PKS.
Gerindra dan PKS adalah dua partai yg murni berdiri pada Kubu Oposisi. Dan hal ini dilakukan dg penuh integritas, jujur dan bertanggung jawab kepada masyarakat. Sikapnya jelas.

Ditengah mengharu birunya situasi perpolitikan di negeri ini, dimana popularitas Jokowi semakin mengalami penurunan yg tajam, terseret pula partai-partai pendukungnya. Apalagi selama ini selalu berseberangan dengan Ummat Islam yang mayoritas di negeri ini. Partai Demokrat secara kasat mata merupakan bagian dari partai pendukung pemerintahan Jokowi. Dapat dilihat dari sepak terjangnya selama ini.
Tiba-tiba muncul kabar bahwa Partai Demokrat hendak bergabung dengan Koalisi Gerindra-PKS? Ada apa? Gagal membentuk poros tandingan? Ingin menggelantung karena popularitas terus menurun ? Yang jelas Partai Demokrat tidak akan pernah cocok bergabung dengan koalisi ini. Tidak akan pernah cocok.

Baca juga:  MASKOT JAKARTA BUKANLAH MONAS

Pertama. Gerindra dan PKS adalah murni partai yg berdiri pada posisi oposisi yg dilakukan secara konsisten dan tegas. Partai Demokrat bukan partai oposisi, lebih cenderung berpihak pada kubu pendukung pemerintah. Dari tabiat dan sepak terjangnya saja sudah jauh berbeda dan bertolak belakang. Dan selama ini bila dilihat memang Partai Demokrat tempat berdirinya selalu berseberangan dengan Gerindra dan PKS. Lihat saja perilaku di DPR selama ini.

Kedua. Partai Demokrat dan Gerindra, dua partai yg kuat pada figur pemimpinnya. SBY pada Partai Demokrat dan Prabowo Subianto pada Partai Gerindra. Berdasarkan rekam jejak, SBY tidak akan pernah bisa bersatu dan padu dengan Prabowo Subianto. Hal ini diawali pada peristiwa tahun 1998, ketika Prabowo Subianto “disingkirkan” dari lingkungan ABRI, dimana SBY sudah memilih bergabung dengan kubu yang berseberangan dengan Prabowo Subianto. Dan kubu tersebut sampai sekarang masih tetap ada, dan masih tetap berseberangan dengan Prabowo, dan masih tetap berusaha untuk menggagalkan Prabowo untuk tampil memimpin negeri ini, sebagaimana halnya terjadi pada Pilpres 2014. SBY tidak pernah bisa keluar dari kubu tersebut.

Dari dua alasan tersebut menjelaskan secara gamblang, bahwa Partai Demokrat tidak akan pernah cocok dengan Gerindra dan PKS. Berbeda tempat berdiri. Sikap Partai Demokrat akan dipengaruhi oleh tempat berdiri SBY. Demikian pula Gerindra banyak dipengaruhi oleh tempat berdirinya Prabowo Subianto. SBY selalu berseberangan dengan Prabowo Subianto. Ini realitas yang selama ini terjadi.

Buktinya, beberapa waktu yg lalu petinggi PD pernah menyatakan bahwa PD siap bergabung dengan Koalisi Gerindra-PKS asal koalisi ini tidak mengusung PS sbg Capres. Bagi Gerindra-PKS sungguh tidak ada pengaruhnya bergabung atau tidaknya PD di dalam koalisi. Tidak ada pengaruhnya.

Baca juga:  Macan Padi Peduli Generasi Bangsa

Jangan bayangkan seperti Malaysia, kecenderungan bergabungnya SBY dengan PS seperti bergabungnya Mahathir dengan Anwar Ibrahim. Jauh berbeda. Mahathir dan Anwar Ibrahim memang berseteru, tapi mereka bisa bergabung karena sama-sama berasal dari kubu oposisi. Jadi tidak bisa disamakan.

Bila PD hendak bergabung dengan Gerindra dan PKS, ini seperti menyatukan minyak dan air. Tidak akan pernah bersatu, karena perbedaan tabiat dan perilakunya. Jangan dipaksakan. Bila dipaksakan jangan-jangan masuknya PD malah menjadi faktor desintegrasi bagi koalisi yg sudah terbentuk solid.

Koalisi Gerindra dan PKS tidak perlu mempertimbangkan hal ini. Cukup lah dua partai ini membangun koalisi besar dengan masyarakat, dengan Ummat Islam yg mendukung penuh sejak Pilgub DKI. Tentu bergabungnya PAN, PBB dan Partai Berkarya, merupakan tambahan kekuatan baru bagi Koalisi ini. Koalisi besar, bergabungnya Partai Oposisi dan Masyarakat Luas termasuk Ummat Islam di dalamnya.

#2019GantiPresiden
#2019PrabowoPresiden
(DJS/S.Sunda/LPTA/21052018)
Dari tulisan;
TABIAT POLITIK BERBEDA – DEMOKRAT HENDAK MERAPAT KE GERINDRA-PKS ? TIDAK AKAN PERNAH COCOK …
(Darby Jusbar Salim – NKS Consult)
(Visited 225 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account