HABIS TERORISME TERBITLAH ISLAMOPHOBIA

HABIS TERORISME TERBITLAH ISLAMOPHOBIA

HABIS TERORISME TERBITLAH ISLAMOPHOBIA

Peristiwa ledakan bom yang merupakan aksi dari Terorisme bukanlah hal yang baru, melainkan kejadian sistematis yang memakai tumbal dan korban dengan tempo serta waktu yang sangat misterius tidak dapat diduga. Terorisme dianggap sebagai tindakan kriminalitas namun aksinya dapat diartikulasikan sebagai ancaman negara, kemanusiaan, keagamaan dan kepentingan politik. Terorisme dianggap berawal dari rantai Radikalisme atas nama agama yang paham serta pemikiran yang salah terhadap penafsiran dan interpretasi. Sehingga asumsi terhadap Radikalisme ialah dinilai bahwa ada agama yang sangat lantang disebut garis karis, dalam hal ini Islam adalah korban dan kambing hitamnya dikarenakan sebagai agama mayoritas meskipun ini juga berlaku terhadap agama lainnya namun kecil pengaruhnya. Fenomena Terorisme menggambarkan bahwa ancaman itu ada dan itu memiliki agenda serta disusun dengan Master Plan yang sistematis. Terlepas itu nanti akan memili efek dan dampak pada korban maupun pelaku sebagai tumbal, umpan, robot, dan boneka yang diprogram otak serat pemikirannya.

Dari aspek Humaniora tentu rasa empati dan ucapan belasungkawa adalah bagian dari kepedulian terhadap rasa kemanusiaan kepada para korban yang terkena aksi peristiwa teror, yang ini selalu dengan menggunakan teoror bom sebagai alat ancamannya meksi menghancurkan diri sendiri, orang lain, infrastruktur dan sebagainya. Semua sepakat mengutuk aksi Terorisme dengan alasna apapun itu dan tidak ada kaitannya dengan agama karena memang agama tidak ada satu pun yang mengajarkan akan hal itu terkait Terorisme. Lantas menjadi kehilangan kemanusiaan bila pihak korban dielukan dan pihak pelaku terpojokkan, maka sama saja menciptakan benih kebencian dalam kekerasan pada aksi Terorisme yang itu menjadi lingkaran setan sebagai regenerasi Terorisme dari pelaku maupun kepada benih baru dari korban yang memiliki dendam besar hingga akhirnya menjadi regenerasi Terorisme selain bagian rekayasa Terorisme yang masih sangat spekulatif, asumsi, dan fiksi. Keadilan terhadap rasa kemanusiaan tentulah harus merata dan netral mengayomi keseluruhannya tentunya. Sehingga terciptalah budaya humanitarian dan tidak memberikan kecaman ataupun penyakit brutal yang nantinya mengakibatkan lingkaran generasi teroris baru. Hal itu demi terjaganya harmonitas kemanusiaan dalam keberagaman.

Dari nilai sosial tentu hak ini memberikan dampak ketakutan kepada masyarakat sekaligus kebencian kepada masyarakat yang mengakibatkan masyarakat salimg curiga dan saling tuding antar satu dengan yang lainnya baik secara individu, kelompok, organisasi dan lainnya. Sehingga terjadi disintegrasi sosial akan ada yang dirugikan dan ada yang diuntungkan, akan ada yang merasa di atas angin dengan eksistensi dan pengakuan serta ada yang merasa tercekam terpinggirkan bahkan bahan bidikan baik dari elemen masyarakat maupin institusi. Secara psikologis akan berdamoak secara masif dan semua akan merasakannya, sehingga akan sulit mematakannya baik yang menjadi korban, pelaku yang kemduian meluas sampai seluruh elemen masyarakat secara publik. Sehingga akan memunculkan tensi yang tinggi, sentimen yang tak terbendung, tendensius di semua kelompok, intimidasi dari pihak yang lebih kuas, persekusi secara senyap dan lain sebagianya.

Baca juga:  Sholat khusyu’

Namun akan diuntungkan secara Politik, apalagi yang sedang berkuasa karena ini sudah terjadi disetiap rezimnya. Sebab yang berkuasalah yang memiliki seluruh komponen dan instrumen dengan wewenangnya, sehingga simpati rakyat secara Publik didapatkan dengan narasi Radikalisme yang berujung pada Aksi Terorisme. Menjadi seperti Pahlawan negara yang secara tidak langsung mendapatkan pengakuan publik bahwa telah berhasil terlepa apakah murni kejadian aksi Terorisme ataukah rekayasa aksi Terorisme. Lantas adapula yang paling dirugikan yakni kelompok oposisi dan kelompok yang memang tidak mengakui penguasa atau kelompok separatis, kelompok teroris absolute, kelompok yang tidak pernah mengakui sistem negara dan sebagainya. Tentu menjadi problematika yang sangat panjang dan kompleks kejadiannya. Apalagi media ikut andil sebagai pers yang menjadi pusat informasi publik yang dianggap lebih valid sebagai media mainstreem. Maka munculah media lain melalui sosial media dengan tawaran informasi alternatif yang memaparkan berita secara informatif diluar dugaan yang berkaitan dengan siten dan cara kerjanya. Meski terkadang hal itu juga tidak dapat diterima secara penuh apakah benar atau tidak bahkan sangat bertolak belakang dengan media mainstreem. Sehingga menjadi pembahasan yang sangat dinamis dan memberikan artikulasi yang sangat beragam.

Habis Terorisme terbitlah islamophobia, itulah yang kemudian menjadi fenomena selanjutnya hasil dari post terorisme. Aksi Terorisme memberikan efek dan dampak signifikan untuk memunculkan islamophobia, hal itu terbukti dari negara-negara barat dan amerika yang lebih dulu memulainya dan mendramatisirnya. Outputnya dan Outcomenya sangat jelas dan sukses, sehingga memberikan impact ynh tajam di kalangan masyarakat. Muslim atau muslimah yang sangat kental dengan simbol keagamaan akan terkena dampaknya apalagi yang cadaran, gamisan atau yang terlihat mencurigakan karena dianggap akan memiki paham Radikalisme dan paham islam garis keras yang menganut pemikiran jihad mencapai surga atas nama Islam dengan tindakan Terorisme untuk mengancam negara dan masyarakat. Miris sekaligus menyedihkan rangkaian panjang yang terjadi dari peristiwa post terorisme ini.

Hal menarik lainnya ialah habis terorisme terbitlah islamophobia ini ialah bermunculnya gagasan-gagasan yang akan menjadi sumber tunggal sehingga sangat otokrotik dan monolog. Padahal aksi Terorisme bukan hal baru, hanya narasi, skenario, latar, setting, dan sikon saja yang baru. Indonesia sebagai negara demokrasi yang beberapa kali berganti mekanismenya dari demokrasi-pancasila (perjuangan), demokrasi-otoriter, demokrasi-reformasi dan indikasi akan menjadi demokrasi-sekuler. Hal ini sangat jelas karena istilah yang muncul bukan lagi persoalan perbedaan mazhab, manhaj dan organisasi dalam urusan furu’iyyah melainkan perbedaan ideologi afiliasi melalui studi dan keilmuan. Islam-radikal yang snagat mengena apalagi dianggap sebagai pemahaman Islam garis keras tidak ada kompromi dan dianggap tidak tolereansi pada demokrasi indonesia sehingga sangat dekat pada Terorisme. Di sisi lain masih banyak yang lain seperti Islam-liberal yang dianggap sangat harmoni dengan masyarakat dan tinggi toleransi sehingga dapat diterima narasi dan gagasannya. Islam-sekuler yang sangat demkratis dan progres dalam menjalankan tatanan negara yang terpisah dengan urusan agama, sehingga sangat kental perbedaan mana yang privat dan mana yang publik. Islam-moderat yang sangat damai dan netral dapat menerima kemajuan serta sangat humanitarian sehingga bisa menerima keadaan. Dan idelogi afiliasi lainnya yang mengintegrasikan dengan nilai baik yang ekstrim, nasionalis, sosialis, konservatif, fasis dan sebagainya. Sehingga terjadilah kontestasi di dalam Islam itu sendiri pasca atau post terorisme.

Baca juga:  Pesan Indah KH Maimun Zubair

Perlu kajian mendalam untuk membedah serta menemukan titik terang dalam menyelesaikan dan mengungkapkan segala kejadian dengan kebenaran yang transparansi, kebenaran yang adil, kebenaran yang absolute, kebenaran yang Publik, dan kebenaran yang progres. Hal itu agar apa yang ditakutkan oleh masyarakat tidak menjadikan sebagai pembodohan atau justru pelemahan nalar, pola pikir, intelektualitas, dan logika. Karena setiap kejadian yang berdasarkan pemahaman, ideologi, intelektual, gagasan, selalu ada perencanaannya yang sangat sistematis dab terstruktur tidak dengan spontanitas, improvisasi, dan hukum alam atau alamiah. Sebab semua ada ritemnya dan ada alurnya yang panjang sangat detail, kompeherensif, siginifakan, intens, akumulatif dan sebagainya. Hukum alam saja masih ada rencana yakni dari Tuhan, apalagi sesuatu yang datangnya dari buatan dan tangan manusia melalui hasil karyanya entah digunakan sebagai bentuk hal positif bermanfaat dan maslahat maupun sebagai bentuk hak negatif untuk mudhorot dan kehancuran. Karena yang jelas nalar, logika, intelektual, spekulasi, asumsi, pendalaman, dialog, transparansi snagat ditekanakan selain hanya perasaan atas apa yang selalu menjadi fenomena apapun yamg terjadi, karena kekuasaan akan melahirkan banyak fenomena dan situasi dengan kompleksitas yang tinggi sebagai bentuk agenda setting yang digunakan.

Penulis : Al Azzad

(Visited 348 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account