Surat Terbuka Buat Buya Ma’ruf Amin dan Buya Din Syamsudin; Kekuatan Ulama pada Istiqamah

Surat Terbuka Buat Buya Ma’ruf Amin dan Buya Din Syamsudin; Kekuatan Ulama pada Istiqamah

Surat Terbuka Buat Buya Ma’ruf Amin dan Buya Din Syamsudin,

Buya yth, jeritan hati saya sebagai ummat saya beri judul: Kekuatan Ulama Pada Istiqamah

 

https://goo.gl/images/qwJQu9

Buya yth, Ulama pastilah orang berilmu, dia tentu takut kepada Allah SWT. Namun, ulama juga diuji. Bagai pohon semakin besar dan tinggi semakin kuat angin menerjang.

Ulama yang lulus ujian adalah. Ulama yang istiqamah, teguh penderian tak mudah diombang ambing. Dia tidak seperti pimping di lereng bukit, kemana angin kuat ke sana dia merunduk.

MUI pada masa lalu besar dan dikenang. Karena pimpinannya istiqamah. Misalnya Buya Hamka, beliau telah memberi tauladan bagaimana seorang Pimpinan MUI mesti bersikap. Dia tegas dan konsisten, terkait dengan pembelaan terhadap syariah dan aqidah, beliau kokoh dan tak mudah goyang meski diserang tiupan dahsyat angin kencang.

Fatwa tentang haramnya Natal Bersama tak pernah mau dicabut walau didesak penguasa negeri.

Keistiqamahan Buya Hamka harum sampai hari ini. Bagaikan kesturi yang semerbak wangi.

Kini, Buya dan para Ketua MUI pun tengah diuji. Satu ujian itu ialah kasus Puisi Sukmawati. Konten puisinya telanjang sekali menghujat dan merendahkan Islam. Jilbab dan hijab diletakkan di bawah konde rambut palsu ibu-ibu. Suara azan direndahkan lebih rendah dari kidung ibu-ibu.

Jangankan ulama sekelas para Ketua MUI, ulama kampung pun tahu semua ini penghinaan terhadap simbol, syiar dan ajaran Islam, bahkan irang awam pun tahu. Tentu, Buya sebagai Ketua MUI sangat mengetahuinya dan tahu hukumannya bagaimana dalam Islam.

Baca juga:  Uji Nyali, Wefie Salam Dua Jari Bersama Jokowi

Apakah Buya Ma’ruf Amin dan Buya Din Syamsuddin lulus dalam ujian ini?

Berat nian ujian ini buat Buya berdua. Mengingat Buya berdua saat ini tentu dekat dengan penguasa, sedang Sukmawati juga bagian dari orang yang dekat dengan penguasa. Apakah telah ibarat kata pepatah telah terhimpit lidah?. Jika ini terjadi tentu sulit bagi Buya bicara di atas kebenaran, yang gampang bicara dengan bahasa kebijakan.

Indikasi seperti ini dapat dilihat dengan seruan beliau agar Sukmawati dimaafkan dan menurut beliau tak ada niat Sukmawati untuk menghina dan merendahkan Islam.

Buya, puisi tak bisa keluar spontan tapi dari renungan dengan makna dan kata pilihan yang betul-betul lewat renungan mendalam. Kalau Ahok bisa jadi spontan dalam pidatoan, sedang Sukmawati tak mungkin spontan karena dia ditulis dan dibaca dalam bentuk puisi. Kata remi kata dalam.puisi difikirkan, diseleksi dan direnungkan kedalaman dan jetajaman maknanya. Lalu, bagaimana Buya ngomong tak ada niat? Alasan ini tentu bertentangan dengan kaedah penulusan puisi dan bertentangan dengan akal sehat.

Saya berharap tetaplah istiqamah dalam menegakkan syari’ah. Karena istiqamah itu pakaian ulama. Jika seorang ulama tidak istiqamah maka hilanglah keulamaannya.

Baca juga:  Jejakaku...Semoga kau tak seperti Dilan, yang senangnya merayu anak perempuan orang

Hadits ini baik untuk direnungan.

عَنْ عَمْرٍو وَقِيْلَ أَبِيْ عَمْرَةَسُفْيَانَ بْنِ عَبْدِاللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهَ , قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ , قُلْ لِيْ فِيْ اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً , لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًاغَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ , ثُمَّ اسْتَقِمْ . رواه مسلم

Dari Abu ‘Amr, dan ada yang mengatakan dari Abu ‘Amrah Sufyân bin ‘Abdillâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu, yang berkata : “Aku berkata, ‘Ya Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian istiqâmahlah”. Hr Muslim.

Demikianlah surat terbuka ini, semoga ada manfaatnya untuk Buya berdua dan juga untuk ummay.
Jazakumullahu khairan jaza’.
Padang, 7 April 2018
Wassalam
Ibnu Aqil D. Ghani

(Visited 447 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account