Catatan Akhir Tahun: Fenomena Baru Sosial Media; Oposisi Tangguh Bagi Penguasa

Dengan sistem Demokrasi yang dijalani saat ini, memungkinkan penguasa mulus menjalankan setiap agendanya. Oposisi di DPR menjadi seperti macan ompong yang sengaja dibuat ‘mandul’. Penguasaan atas suara di DPR amat mudah diperoleh. Dengan memberikan beberapa posisi dalam pemerintahan, maka yang tadinya besebrangan akan menjadi partai koalisi bagi Rezim.

Bagi partai dengan nilai perolehan suara yang minim, godaan ini bukan saja memberinya tempat untuk bisa ambil bagian dari pemerintah. Tetapi juga sedikitnya berhasil mendongkrak pemilihan suara untuk tahun yang berikutnya.

Yang cukup aneh sebenarnya fenomena Golkar. Dengan suara yang bisa dibilang signifikan, Golkar yang ‘hampir’ selalu bernasib buruk ketika mencoba menarik suara untuk Pilpres dan selalu gagal mendapat simpati. Menariknya setelah ber-oposisi dalam Pilpres, Golkar akan berusaha mendekati partai penguasa dan mencari tempat amat untuk berteduh. Akibatnya fatal, oposisi benar-benar kehilangan suara di Parlemen.

 

Munculnya fenomena kekuatan Sosmed agaknya didasari oleh “mandulnya” suara oposisi di Parlemen. Mulai dari kesadaran orang-perorang yang mengkritik hingga munculnya kesadaran untuk membentuk kekuatan-kekuatan dengan membentuk kumpulan-kumpulan. Meski tidak pernah menjadi sebuah organisasi, nyatanya kekuatan seperti Jempol Rakyat dan Muslim Cyber Army malah semakin kuat justru karena tidak adanya Struktur Organisasi yang membatasi gerak mereka. Begitu pula tidak ada kepentingan-kepentingan baik uang atau jabatan yang “menggoda” mereka. Semua mengalir dan terkoordinir begitu saja.

Baca juga:  YUSRIL: ASPIRASI GANTI ATAU DUKUNG PRESIDEN 2019 ADALAH HAK KONSTITUSIONAL RAKYAT YANG DIJAMIN OLEH UUD 45

Selama ini, banyak tudingan-tudingan mereka sebagai kekuatan bayaran. Tudingan seperti itu nampaknya malah membuat mereka semakin kuat. Sebab lawan mereka terlena yang dengan pikiran seperti yang dituduhkan tersebut akan lengah terhadap kekuatan sebenarnya dari gerakan-gerakan mereka di Sosial Media. Melemahkan mereka dengan argumen bahwa mereka adalah orang-orang bodoh pun ternyata semakin terbantahkan dengan kekuatan-kekuatan yang mereka punya.

Lalu apa yang bisa mereka perbuat hanya dengan berkicau di Sosial Media? Menurut seorang aktifis sosial media, apalah artinya mereka. Selain berkicau tidak ada yang bisa mereka lakukan. Mereka hanya berharap seseorang diluar sana, yang punya kemampuan, punya kekuatan untuk menangkap keresahan yang mereka keluhkan. Mereka sekedar menjadi “Trigger” yang tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada dukungan dari pihak yang dianggap mampu bergerak dengan tangannya.

Dalam kasus Penistaan Agama contohnya, nyatanya suara mereka tidak akan berarti apa-apa jika pihak-pihak seperti MUI, Habib Rizieq Shihab, AA Gym, Ust. Arifin Ilham, GNPF tidak menangkap keresahan yang disuarakan.

Baca juga:  Relawan Spesialis Hajatan

Yang jadi masalahnya bagi Rezim saat ini, “trigger” nya semakin besar. Kekuatan sosial media ini semakin hari semakin bertambah dengan munculnya kesadaran-kesadaran baru bahwa ada yang mulai tidak beres dengan pengelolaan negara saat ini.

Jadi bilapun dibungkam, kekuatan ini semakin lama akan semakin berkembang. Kekuatan ini semakin cerdik melihat sisi mana kekurangan yang harus dilawan dan dari sisi mana mereka harus melakukan serangan.

Inilah yang ditakutkan, saat merekapun jadi fenomena baru Sosial Media; menjadi oposisi tangguh bagi penguasa.

(Visited 225 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account