RASI : Beras Singkong, Kearifan Lokal dari Kampung Adat Cireundeu

Kuliner

Teu Boga Sawah Asal Boga Pare,

Teu Boga Pare Asal Boga Beas,

Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu,

Teu Nyangu Asal Dahar,

Teu Dahar Asal Kuat

Itulah salah satu prinsip yang dipegang oleh penduduk Kampung Adat Cireundeu Desa Leuwigajah, Cimahi Selatan. Teu dahar asal kuat yang dimaksud tentu bukan tidak makan. Tetapi kebiasaan masyarakat Indonesia yang sangat tergantung oleh beras/nasi menjadi semacam prinsip bahwa makan itu adalah nasi dan belum makan jika belum makan nasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tentu tidak bisa dibayangkan, bahwa sebuah Desa yang letaknya tidak jauh dari perkembangan kota dengan sebagian penduduk yang bekerja sebagian diperkotaan akan memegang teguh prinsip yang turun temurun untuk tidak makan nasi. Apalagi Desa ini juga sama sekali tidak berkesan “tertinggal”, karena semua perkembangan zaman dan interaksi sosial tidak ‘mengharamkan’ masuknya pengaruh-pengaruh dari luar seperti halnya gadged, Televisi, dan alat elektronik lainnya. Demikian pula hubungan dengan interaksi sosial yang bebas dan kebebasan masyarakat di Kampung Adat untuk menikah dengan pasangan yang bukan dari komunitasnya.

Baca juga:  Makanan Bersejarah Palembang yang Terancam Tertelan Masa

Masyarakat di Kampung Adat Cireundeu ini, makanan utamanya adalah RASI. Rasi adalah singkatan dari Beras Singkong yang merupakan olahan dari umbi Singkong yang jadi makanan utama pengganti nasi. Rasi bisa menjadi pengganti nasi dan tetap bisa dimakan dengan lauk-pauk seperti halnya nasi. Bahkan bisa dibuat menjadi nasi goreng yang cukup lezat untuk disantap.

Menurut Kang Yana, salah satu tokoh pemuda dari Kampung Cireundeu, ada sekitar 70 Kepala Keluarga dari sekitar 300 Kepala Keluarga yang masih memegang teguh untuk tidak memakan Nasi dari Beras, tetapi hanya memakan nasi dari Singkong. Mereka akan membawa Rasi ke lokasi tempat-tempat mereka bekerja atau beraktifitas. Jika tidak ada, mereka akan memakan apa saja kecuali Nasi dari Beras. Mereka boleh memakan Roti, Indomie, buah, dll, asalkan tidak memakan Nasi. Sebab masih kata Kang Yana, sekali memakan Nasi dari beras, maka godaan untuk memakan nasi tersebut akan mempengaruhi keteguhan mereka bertahan makan RASI.

 

Ini Masalah Pola Pikir, Bukan Pola Makan

Ada yang menarik ketika kami tanyakan bagaimana mungkin Masyarakat Kampung Adat Desa Cireundeu bisa bertahan ditengah gempuran peradaban yang berkembang saat ini? Salah satu sesepuh Kampung Adat Cireundeu menjelaskan dengan sangat baik dan mengejutkan bagi kami. “Ini adalah masalah pola pikir, bukan pola makan”. Inilah kearifan yang diajarkan turun temurun di Kampung Adat Cireudeu. Menurutnya, dengan memakan Rasi mereka melepaskan ketergantungan kepada pemerintah akan beras yang saat ini tidak saja mahal, tetapi juga di import karena keterbatasan beras. Dengan mempertahankan Rasi, mereka tidak hanya memanfaatkan potensi tumbuhan yang mudah dicari dan ditanam yaitu singkong, tetapi juga menghasilkan olahan lain yang akhirnya mampu memberi nilai tambah bagi masyarakatnya.

Baca juga:  Tanaman Kecipir dan manfaatnya

Pada kunjungan kami ke Kampung Adat Cireundeu, kamipun menikmati olahan Nasi Goreng dari RASI dan siangnya, kami menikmati Rasi Putih beserta lauk pauk Ayam goreng, Lalapan dan tempe oreg yang rasanya sangat maknyus untuk kami makan dengan lahap.

 

Cireundeu 10 Desember 2017

 

 

(Visited 1.718 times, 1 visits today)

1 thought on “RASI : Beras Singkong, Kearifan Lokal dari Kampung Adat Cireundeu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *